Oleh: umarazez | Juni 6, 2008

Pewaris Al Qur’an

Oleh: Umar Aziz

Sesungguhnya Allah ta’ala mewariskan kitabnya (al qur’an) hanyalah kepada umatnya yang mau menjalankan perintah dan menjauhkan diri dari larangan Allah dan Rasulnya. Allah ta’ala berfirman:
مَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (32)
Artinya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir :32)
Dalam ayat di atas dengan jelas menjelaskan bahwa kitab Allah (al qur’an) hanya diwariskan kepada orang-orang yang telah dipilih oleh Allah untuk mewarisinya, para ulama ahli tafsir di antaranya imam Ath Thabari, Ibnu Kasir dan yang lainnya mengatakan, mereka adalah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka dikatakan mendapatkan warisan karena mereka adalah umat akhir zaman yang telah didahului oleh umat-umat sebelumnya.

Tingkatan umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dari ayat di atas Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa orang yang mendapatkan warisan kitab dari Allah ta’ala terbagi menjadi tiga golongan:
Mereka yang menganiaya diri mereka sendiri.
Yaitu orang-orang yang meremehkan dalam melaksanakan kewajiban, dan melaksanakan sebagian perkara yang telah diharamkan oleh Allah ta’ala. Mereka adalah para pelaku kemaksiatan dari kalangan umat ini, yang masih suka malas dalam mengerjakan shalat, dan kewajiban lainnya, yang Allah mengancamnya dengan neraka. Mereka mendapatkan hisab yang sangat lama di Padang Mahsyar
Para ulama’ berbeda pendapat mengenai mereka;
Ali bin Thalhah mengatakan mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa namun Allah mengampuni mereka.
Ibnu Abi Hatim mengatakan mereka adalah orang-orang kafir.
Mujahid mengatakan mereka adalah golongan kiri (Ashabul Mas’amah)
Hasan Al Bashri dan Qatadah mengatakan mereka adalah orang-orang munafik.
Dari perbedaan yang ada di kalangan para ulama’ maka dapat diambil kesimpulan, bahwa mereka adalah bagian dari umat ini, di antara mereka adalah orang-orang kafir, orang-orang munafik, golongan kiri, dan orang-orang yang berbuat maksiat dan dosa yang di antara mereka ada yang diampuni oleh Allah dan akan masuk surga dengan mendapatkan rahmat dari Allah ta’ala dan syafa’at dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Syafa’atku bagi pelaku dosa besar dari kalangan umatku.”(HR. Ath Thabroni)
Mereka yang pertengahan.
Yaitu orang-orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam agama seperti shalat, zakat, puasa ramadhan dan haji. Dan meninggalkan hal-hal yang haram, meninggalkan judi, mabuk-mabukan, berlaku dhalim terhadap sesama, berbuat zina, terkadang mereka juga meninggalkan perkara-perkara yang mubah (boleh dilakukan), dan melaksanakan perkara-perkara yang makruh, mengerjakan shalat di masjid yang terdapat kuburannya, banyak berkumur di kala puasa, yang mereka pada hari di mana matahari didekatkan, terjadi banjir keringat di Padang Mahsyar, mereka mendapatkan hisab dari Allah ta’ala dengan mudah.
Mereka yang terlebih dahulu berbuat kebaikan.
Yaitu orang-orang yang melaksanakan hal-hal yang wajib dan sunah, meninggalkan perkara-perkara yang haram, makruh dan sebagian perkara yang dihukumi mubah oleh syari’at. Mereka adalah orang terbaik dari umat ini, mereka adalah orang-orang yang berbuat ihsan yang mengerjakan apa yang terbaik bagi diri mereka. Para ulama mengatakan mereka adalah orang-orang yang memasuki surga tanpa hisab.

Di manakah posisi kita.
Sebagai seorang mukmin yang Allah ta’ala telah memberikan rambu-rambu dalam al qur’an dengan jelas akan ketiga golongan dari umat Muhammad, maka tentunya kita ingin di masukkan dalam golongan orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan kalau kita tidak bisa, ya.. paling tidak kita menjadi orang-orang yang pertengahan.
Akan tetapi kita seyogianya tetap terus berusaha untuk menjadi yang terbaik, Allah ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18)
Artinya; yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal. (QS. Az Zumar :18) wallahu a’lam.

Referensi:
Tafsir Ath Thabari
Tafsir Ibnu Kasir
Al Qur’an terjemah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: