Oleh: umarazez | Agustus 25, 2008

Dipaksa Kawin oleh Orang Tua

Oleh: Umar Aziz

Sering kita mendengar kabar tentang seorang wanita gadis yang dipaksa kawin oleh orang tuanya, dipaksa dijodohkan oleh orang tua karena faktor-faktor tertentu, meskipun sang anak (wanita) tidak menyukai orang yang dijodokan orang tuanya dengannya. Maka menurut syaikh Utsaimin, apabila saudara wanita itu berstatus gadis dan dipaksa oleh ayahnya, maka sebagian ulama adalah yang berpendapat pernikahannya sah, dan mereka berpendapat bahwa ayah berhak memaksa puterinya menikah dengan orang yang tidak disukainya, jika orang itu sekufu’ (layak, sepadan dan mampu). Akan tetapi pendapat yang lebih kuat di dalam masalh ini adalah (yang mengatakan) bahwa ayah ataupun launnya tidak berhak dan ridak boleh memaksa puterinya menikah dengan orang yang tidak ia sukai sekalipun seklufu’ (sepadan, mampu) karena Rasulullah r telah bersabda, “

لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتىَّ تُسْتَأْذَنَ

“Wanita gadis tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai izin (pendapat).”

Hadits ini bersifat umum, tidak seorangpun dari para wali yang dikecualikan, bawakan ada hadits di dalam shahih Muslim sebagai berikut:

وَ اْلبِكْرُ يَسْتَأْذَنُهَا أَبُوْهَا

“Seorang gadis itu dimintai izin (pendapat) oleh ayahnya.”

Hadits ini menegaskan keputusan atas gadis remaja dan keputusan terhadap ayahnya, keputusan di dalam perselisihan. Dari itu dijadikan rujukan masalah. Maka paksaan orang tua (ayah) terhadap puterinya untuk menikah dengan lelaki yang disukainya hukumnya adalah haram; dan sesuatu yang diharamkan tidak sah dan tidak berlaku, sebab memberlakukannya dan mengesahkannya bertentangan dengan larangan yang terdapat di dalam nash hadits, sedangkan apa yang dilarang oleh syar’I (Allah dan rasulNya) dimaksudkan agar ummat islam tidak melanggar atau mengerjakannya. Apabila kita membenarkan paksaan itu, maka itu artinya kita melanggar larangan dan mengerjakannya, dan berarti kita telah menjadikannya seperti akad-akad yang diperbolehkan oleh asy syar’i. Ini tidak benar! Maka dari itu, pendapat yang kuat adalah bahwa perkawinan paksa yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap puterinya dengan lelaki yang tidak disukainya adalah perkawinan yang rusak dan akadnya pun rusak, maka pihak kehakiman wajib meninjau ulang.

Adapun mengenai orang yang melakukan kesaksian palsu, maka mereka telah melakukan salah satu dosa yang sangat besar. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi r, “Maukah kalian aku beritakan mengenai dosa-dosa yang paling besar?” Lalu beliau menyebutkannya dan pada saat itu beliau bersandar lalu duduk dan kemudian bersabda,”

أَلاَ وَ قَوْلُ الزُّوْرِ وَ شَهَادَةُ الزُّوْرِ, اَلاَ وَ قَوْلُ الزُّوْرِ وَ شَهَادَةُ الزُّوْرِ

“Ketahuilah, dan ucapan dusta dan kesaksian dusta (palsu); ketahuilah, dan ucapan dusta dan kesaksian dusta (palsu).” Beliau mengulanginya berulang-ulang, sampai para sahabat mengatakan: mudah-mudahan beliau berhenti (diam). (HR.. Bukhari dan Muslim)

Orang yang telah melakukan kepalsuan itu hendaknya segera bertobat kepada Allah ta’ala dan mengatakan yang haq serta menjelaskan kepada hakim agama bahwa mereka telah memberikan kesaksian palsu dan mereka mencabut kesaksian palsu itu.

Demikian pula sang ibu, karena telah memberikan tanda tangan atas nama anaknya secara dusta, ia juga berdosa dan wajib bertaubat kepada Allah ta’ala dan tidak mengulangi hal yang seperti itu.

(fatwa-fatwa terkini jilid:1 hal: 436)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: